Singgah di Kebun Vertikultura Milik Pak Eddy di Tubanan Jepara



Indahnya bunga sawi pada lahan vertikultura

Pada rangkaian acara orientasi akselerator kesehatan di DKK Jepara bulan Juli 2017 kemarin, kami (akselerator kesehatan Jepara) sempat diajak mampir ke rumah seorang laki-laki yang biasa disapa dengan panggilan Pak Eddy di Desa Tubanan RT 04 RW 04. Ada yang unik dari rumah Ketua Forum Kesehatan Desa Tubanan ini. Begitu sampai di gang kecil yang akan masuk ke halaman rumah Pak Eddy, kita disambut dengan tanaman-tanaman hijau yang ditanam pada pipa plastik. Ada bayam, kangkung, terong, cabe, dan macam-macam sayuran lainnya.  Ada juga beberapa jenis bunga. Sekitar seratus meter ke depan, woooow….. nuansa maha hijau menghias hampir seluruh  pandangan mata.  Sungguh tepat sekali kami mampir ke sini, setelah hari sebelumnya agak spaneng dengan acara resmi sosialisasi STBM. Apalagi di siang panas, warna hijau serasa sebagai obat penyejuk hati.

Pak Eddy (kaos putih hitam, berkacamata) bersama para akselerator di halaman rumahnya.

    Lelaki bernama lengkap Eddy Widodo itu menyambut dengan senyumnya yang menampakkan rona bahagia. Pak Eddy sepertinya senang sekali kedatangan tamu istimewa (aih… boleh kan skali-skali merasa istimewa). Kami langsung menghambur mendekat pada Pak Eddy. Setelah bersalam-salaman, satu persatu pertanyaan bermunculan dari beberapa akselerator kesehatan. Pak Eddy pun dengan sabar melayani rasa penasaran kami.

Bunga kangkung menyambut kami

Beberapa akselerator ada yang langsung berkeliling menuntaskan rasa kagumnya langsung dengan melihat-lihat ke seluruh lahan Pak Eddy.
“Woow…, woow…!” kata itu berulangkali keluar dari mulut kami.
“Cekrak, cekrek, cekrek!” kamera HP pun tak henti merekam pose selfie kami di tengah lahan menghijau itu. Sayuran sawi memenuhi hamper 80% dari seluruh lahan.

habis panen sawi selfie yuuk



 Yuuk panen sawi....segerrrr

Mentimun jepang yang bisa dipakai untuk obat

 Bentuk lahan yang beda dari biasanya, karena tak hanya menghampar di bagian tanah tetapi berupa paralon-paralon yang menjulang dengan lubang-lubang yang berisi tanaman saw,i sungguh menyenangkan. Iya, itulah yang dinamakan cara bertanam dengan sistem vertikultura (menanam dengan sistem lahan bertingkat. Jadi, kita bisa memanen berkali lipat daripada hanya memanfaatkan lahan bawah saja. Bagaimana tidak? Dalam satu buah paralon yang berdiri vertikal itu, kita bisa menanam bibit sawi lebih banyak. Jika biasanya dalam sejengkal tanah hanya bisa untuk satu biji sawi, maka dengan paralon berlubang-lubang ini, untuk satu jengkal tanah kita bisa menanam sekitar sepuluhan biji. Atau dalam satu paralon bisa disemai benih yang berbeda-beda jenisnya.  Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat pada gambar yang saya posting di sini.

Vertikultur cabe rawit



vertikultur sawi


Menurut Pak Eddy, “Saya tertarik dengan vertikultura karena bisa untuk efisiensi lahan, karena vertikultura berasal dari kata vertikal yaitu bertingkat. Dan menanamnya pun mudah, tinggal masukkan benih ke lubang paralon.”

Pak Eddy dalam menyuburkan tanaman menggunakan bantuan pupuk yang semuanya organik, termasuk kompos. Ketika ditanyai bagaimana cara membuat kompos, dengan becanda beliau menjawab praktis, “Gampang…bisa dicari di internet.” Wah, jawaban Pak Eddy membuat geli. Bener sih ya…

Siapa bilang bercocok tanam hanya untuk lahan luas? Dan ternyata tak hanya tanaman saja yang bisa dibuat sistem bertingkat. Kolam ikan juga! Ck ck ck…keren abis ya…! Betul betul betul! (Gaya upin-ipin). Di lahan ini, Pak Eddy juga beternak sapi, kambing, bebek, ayam, dan ikan. Hmmm….kurang apa coba? Dan Pak Eddy sudah berulangkali menghasikan rupiah dari hasil penjualan tanaman yang dipanen atau ternaknya. Alhamdulillah…

Kolam ikan bertingkat juga lho...

Wah, istri Pak Eddy, Bu Istiani  pasti juga senang dengan hobi Pak Eddy ini, selain bikin halaman rumah jadi sejuk dan asri, juga menambah penghasilan keluarga.

“Kalau jangka waktu panen ya… tergantung jenis tanamannya, kemaren barusan panen cabe dan ada bakul yang ngambil.” jawab Pak Eddy saat ditanya tentang waktu panen.


kolam untuk menyemai tumbuhan pakan ikan nila

Oke deh Pak Eddy…, pemanfaatan lahan Bapak memang sangat menginspirasi. Kebetulan Desa Tubanan juga dijadikan desa untuk pencanangan kampung KB. Pemanfaatan lahan ini juga termasuk hal yang menjadi nilai plus desa Tubanan sebagai kampong KB. Pak Eddy memang ketua FKD teladan nih…

Pak Eddy memang punya keinginan memberi contoh kepada masyarakat agar bisa memanfaatkan lahan dengan baik. "Apalagi Indonesia negara agraris, sebisa mungkin kalau cabe saja nggak usah beli, apalagi yang tinggal di pedesaan…” kata Pak Edy.


Cabe merah yang cantik di halaman rumah Pak Eddy


Ohya, di sekitar lahan ini juga ada kandang sapi, kambing, bebek, dan ayam. Tapi kok baunya nggak khas seperti tempat ternak lain ya? Biasanya tiap kandang sapi atau kambing menguarkan bau khas yang…. (Hoooeeekk!). Ternyata ada rahasianya…ssst, kita dengerin yukk!
“Ohya, memang ternak saya tidak bau, karena saya kasih bio boost.”
Otomatis kami memasang telinga lebih lebar lagi. “Bio boost?” Sudah pasti kami bertanya-tanya apa itu bio bos.
“waktu ngasih makan, makanannya kita kasih bio boost, ada aturannya sih seberapa ukurannya. Sedikit saja kok. Nha…nanti kotoran ternak yang keluar jadi tidak bau…” jelas Pak Eddy. 
“Ooo…” kata kami hampir bersamaan sambil menggut-manggut.
“Bio boost itu banyak sekali manfaatnya. Untuk ternak senidri, membuat pencernaan lebih sehat, nafsu makan bertambah, dan kotorannya tidak bau. Untuk pertanian, bio boost adalah pupuk organik yang bagus, serta bisa lebih hemat dari pada memakai pupuk kimia. Bisa memperbaiki struktur tanah, bisa juga dimanfaatkan sebagai starter (mikroorganisme) pembuatan kompos. Bahkan untuk mengatasi toilet mampet pun bisa.”
“Ooo…”

Sebagai informasi, bahwa bio boost adalah produk organik yang memiliki manfaat yang beragam. Bisa untuk peternakan, pertanian, perkebunan, perikanan, dan pengolahan limbah. Kalau mau info lebih lengkap tentang bio boost bisa googling lagi ya. Menarik juga pemanfaatan bio boost untuk pembuatan kompos. Itu tuh… memanfaatkan sampah organik (sampah basah) untuk dijadikan pupuk. Karena so pasti itu bisa menjadi salah satu cara penanggulangan masalah sampah. Tapi fungsi bio boost lainnya juga menarik, bagi kita yang mau beternak dan bertanam, bio boost bisa menjadi referensi yang bisa diandalkan.

Ohya, ini salah satu contoh link yang bisa diklik untuk mengetahui informasi tentang bio boost: lhttps://bioboostsakti.blogspot.co.id/2016/10/aplikasi-bioboost-untuk-peternakan.html

Pak eddy, lelaki berkacamata yang keren ini punya pesan untuk warga Jepara khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, “Sekecil apapun lahan yang kita punya, manfaatkanlah dengan semaksimal mungkin.”

Demikian cerita sekilas tentang pertemuan kami dengan Pak Eddy bersama kebun vertikulturanya. Sangat mengesankan, dan kami pulang selain membawa oleh-oleh sayuran juga membawa pesan di hati masing-masing, bahwa suatu saat pasti mengikuti jejak beliau. Aamiin....



Rumah Pak Eddy yang tertutup taman sayur vertikultura


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Novel "Aku Ingin Sekolah Lagi" nya Eric Keroncong

Ini Dia Kata Mbak Win, Mengapa Ratu Kalinyamat Tahun Ini Pakai Jilbab.

Yang Sederhana yang Penuh Kesan... Mbak Ima Fasilitator STBM dari Mojokerto