Selasa, 08 Agustus 2017

Yang Sederhana yang Penuh Kesan... Mbak Ima Fasilitator STBM dari Mojokerto

Mbak Ima berkunjung ke lahan penduduk yang memanfatkan kompos dari sampah organik
Sekilas wanita itu nampak biasa-biasa saja. Terkesan terlalu sederhana malah. Berbaju kerja lengan panjang, celana panjang, wajah berbedak tipis tanpa polesan make up berarti, paling-paling sepoles lipstick tipis, saat berangkat kerja. Rambut ikalnya diikat begitu saja ke belakang, dengan karet gelang. Iya, karet gelang, bukan karet  rambut warna-warni seperti yang dipakai kebanyakan wanita. Orang yang tidak kenal mungkin menganggapnya bukan siapa-siapa. Namun, jika kita telah mengenal sepak terjangnya di dunia kesehatan lingkungan, maka decak kagum mungkin tak akan berhenti keluar dari bibir kita.
sosok sedrhana itu...
Nama wanita kelahiran Mojokerto itu adalah Ima Alfiyatunnisak. Kami biasa memanggilnya “Mbak Ima”. Kepada kami , Mba Ima menyebut dirinya sebagai fasilitator STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat). Mbak Ima merupakan pekerja independen, bukan PNS. Saat ini Mbak Ima bekerja degan sistem kontrak di Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara di seksi Kesehatan Lingkungan. Pekerjaan di DKK pun berkaitan dengan profesinya sebagai  konsultan STBM, yang membantu tugas DKK dalam melaksanakan pendekatan STBM ke masyarakat Jepara, di mana saat ini yang sedang gigih dikejar adalah mengentaskan desa-desa di Jepara dari kebiasaan BABS (Buang Air Besar sembarangan).
Ngobrol santai tapi serius bareng Mbak Ima di teras musholla

Dengan logat medok khas Jawa Timur, wanita kelahiran 30 Desember 1981 ini bercerita tentang pengalamannya menjadi seorang pengabdi masyarakat. Mbak Ima yang ternyata seorang alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga  Surabaya lulusan tahun 2005 ini mengawali langkah hidupnya sebagai fasilitator STBM ketika mengikuti pelatihan di Kabupaten Jember pada Program WSLIC pada tahun 2006, dan bekerja di sana sampai tahun 2007. Berawal dari situlah Mbak Ima mulai berpindah-pindah tempat tinggal demi idealisme seorang pengabdi masyarakat.

Setelah itu, Mbak Ima hijrah ke Gresik, menjadi Fasilitator bidang pemberdayaan Program PPIP tahun 2008. Tahun 2009 Mbak Ima pindah lagi ke Kabupaten Lamongan menjadi Fasilitator Kecamatan bidang pemberdayaan program PNPM Mandiri Perdesaan. Selanjutnya tahun 2010 Mbak Ima menjadi Fasilitator yang sama, hanya saja pindah di Kabupaten Jombang.

Tak hanya di pulau Jawa, tapi Mbak Ima juga pernah merasakan perjuangan turun ke  masyarakat Lembatta, NTT. Saat itu Ia sebagai tenaga ahli Kab bid kesh (dmac)program Pamsimas I di pertengahan tahun 2010 – 2011. Mulai tahun 2014, Mbak Ima mulai bekerja di Jepara, sebagai Faskab STBM program Pamsimas.  Dan Desember nanti, Mbak Ima masuk tahun ke dua bekerja di Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara.

Aih Mbak Imaaa… perjalananmu sebagai seorang pahlawan perubahan masyarakat patut mendapat acungan jempoool. 
Saat mendampingi Petinggi tanda tangan komitmen desa ODF di acara Sosialisasi STBM

Dan ketika ditanya tentang STR sebagai salah satu syarat seseorang untuk diakui sebagai ahli kesehatan, apa jawab Mbak Ima?
 “Saya tidak menjual ijazah saya, yang saya jual ilmu dan pengalaman saya. Saya tidak mengurus STR, karena misi saya adalah bekerja membagi pengalaman. Saya juga tidak ingin menjadi pegawai negeri. Saya hanya ingin mengikuti kata hati. Kalau di situ orang-orang yang bekerja sama masih idealis dan bisa diajak memajukan masyarakat, maka saya betah. Tapi kalau sudah susah untuk idealis dan care…, maka mungkin saya lebih baik mencari tempat lain yang bisa bekerja sama dengan standar saya. Meski digaji besar kalau hati saya tidak nyaman, saya keluar saja, cari yang benar-benar bisa membuat saya mengabdi dengan baik.”

Lalu lanjut Mbak Ima lagi,
“Masalah rezeki itu mengikuti. Ya, seperti kalau pas ada acara kayak ini, dapat kotak makan, snack, itu rezeki yang harus disyukuri.” kata Mbak Ima sambil menunjukkan kotak nasi yang barusan didapat dari acara Sosialisasi STBM di Kecamatan Mayong.”

Tugas utama Mbak Ima saat ini adalah sebagai akselerator kesehatan (fasilitator percepatan program kesehatan masyarakat) di seksi Kesling yang mengawal desa-desa di wilayah Kabupaten Jepara agar bisa menjadi desa ODF. Dan ini bukan pekerjaan mudah. Karena ternyata perilaku BAB sembarangan di berbagai penjuru Jepara masih bisa dikatakan tidak sedikit.

“Seberapa penting sih Mbak, tempat tinggal kita harus ODF?”
Mendengar pertanyaan itu, jawaban Mbak Ima cukup membuat gusar juga.
“Sangat penting, karena menurut sebuah penelitian yang memang belum banyak diketahui orang, bahwa ternyata kasus anak stunting  (terganggunya tumbuh kembang anak karena kurang gizi) itu tidak hanya disebabkan oleh kurangnya asupan makanan. Tapi.., ini juga bisa dikarenakan adanya kerusakan dinding usus sehingga makanan yang masuk tidak bisa terserap dengan baik kandungan gizinya, penyerapannya terganggu. Sehingga meski dia mau makan banyak, ya kandungan gizinya tidak masuk ke tubuh, karna hanya nyelonong saja, masuk, trus keluar…, jadi seperti percuma makan banyak. Makanya anak menjadi stunting. Dan… dalam hal ini, ternyata bakteri E Coli bisa menyebabkan kerusakan dinding usus yang seperti itu."
“Ooh… jadi nggak hanya bisa menyebabkan diare, dan penyakit lain-lain itu ya mbak..?”
“Iya…! Itulah hal yang paling membahayakan dari E Coli. Makanya status ODF sangatlah penting…”

Ketika ditanyai apakah pemicuan hanya dilakukan khusus untuk menuju desa ODF saja? Jawaban Mbak Ima, “Ooh… tidak. Pemicuan dilakukan untuk semua pilar STBM, lima-limanya. Dengan pemicuan, masyarakat ditumbuhkan kesadarannya akan arti penting lingkungan yang sehat. STBM bisa untuk BAB sembarangan, untuk CTPS, Penyediaan air minum  yang sehat, pengamanan sampah yang benar, dan pembuangan limbah cair yang aman. Semua bisa pakai cara pemicuan.”
Jawaban Mbak Ima Mbak Ima membuat wartawan (eh… maksudnya saya-red) penasaran. 
“Jadi Mbak, pemicuan itu dulu dari mana ya awalnya kok bisa dijadikan strategi dalam pendekatan STBM?”
“Ooh… itu dulunya dari masyarakat India. Jadi, di India ada suatu daerah bernama Churu, yang merupakan daerah padang pasir. Mereka banyak yang tidak punya jamban, dan BAB di padang pasir. Hal ini bukan karena mereka tidak mampu, tapi karena kebiasaan. Lalu dicobalah suatu cara percepatan tercapainya peningkatan sanitasi dengan metode CLTS (Community Led Total Sanitation) atau dengan pemicuan itu.”

Untuk diketahui, bahwa di Churu, setelah strategi CLTS tersebut, akses sanitasi meningkat dari 18% di tahun 2006 menjadi 73,5% di tahun 2011. Jika ingin tahu lebih lanjut bagaimana tentang strategi CLTS/pemicuan di Churu, bisa langsung baca di link: .http://stbm-indonesia.org/dkconten.php?id=7908.

“Ooh…jadi gitu ya Mbak Ima… Oke, kalau boleh tahu keinginan Mbak Ima ke depan apa sih, tentang kehidupan Mbak Ima sendiri?”
Dengan yakin Mbak Ima menjawab, “Saya ingin berkeliling Indonesia, bahkan kalau bisa sih ke luar negeri. Belajar sambil mengabdi dan memberdayakan masyarakat untuk menjadi lebih baik.  Tentunya tetap bergerak di ranah STBM karena ilmu saya baru sebatas itu..“
Ceilaa…memang keren Mbak kita satu ini. Sudah keren, rendh hati lagi…

Dan ketika diminta menyampaikan pesannya untuk masyarakat Jepara, ini nih jawaban Mbak Ima…
“Untuk membawa perubahan, hendaknya dimulai dari diri sendiri sebelum mengajak orang. Hal itu demi kesehatan dan masa depan generasi penerus kita. Pasti berguna, sekecil apapun langkah kita.” Begitu kata Mbak Ima sebagai penutup wawancara kami.

Bebaskan ekspresimu Mbak Imaaa...!

Terimakasih banyak Mbak Ima, sudah menjadi Kartini kesehatan lingkungan di Jepara. Semoga dengan bantuan Mbak Ima, Jepara berhasil menjadi Kabupaten ODF, atau berprestasi sebagai Kabupaten STBM. Kelak, kemana pun kau melangkah… semoga setiap desah napasmu adalah kebaikan, aamiin…




Reaksi:

2 komentar:

  1. iya mbak ima keren.btw mksih ya mbak udah mampir n komen...

    BalasHapus