Kamis, 12 April 2018

LEPTOSPIROSIS (PENYAKIT KENCING TIKUS): SEBUAH KLB DI JEPARA

foto diambil dari google

Bulan April 2018 dunia kesehatan Jepara dikejutkan oleh sebuah KLB (Kejadian Luar Biasa) yaitu adanya seorang warga Jepara yang terjangkit penyakit leptospirosis. Penyakit leptospirosis ini termasuk sangat jarang terjadi, sehingga jika seorang saja warga terkena penyakit ini, maka sudah termasuk sebagai KLB (Kejadian Luar Biasa) di dalam ranah ilmu kesehatan. Warga yang tinggal di Desa Bakalan, Kecamatan Kalinyamatan ini saat dibawa ke PKU Muhammadiyah Mayong, keadaannya sudah memasuki tahap gejala berat, yaitu tubuh dan mata sudah menguning, pendarahan pada hidung dan mata, serta persendian yang kaku. Begitu tertera hasil pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan adanya kuman leptospira, maka kejadian itu langsung dilaporkan ke DKK Jepara karena masuk sebagai Kejadian Luar Biasa yang harus segera ditindaklanjuti.

Pada Hari Kamis tanggal 12 April 2018 DKK Jepara bekerjasama dengan Puskesmas Kalinyamatan segera beraksi. Hal pertama yang dilakukan adalah mendatangi pasien yang dirawat di ruang ICU PKU Muhammadiyah Mayong, untuk melihat sejauh mana gejala yang diderita, perkembangan kesehatannya, juga untuk mendapatkan keterangan yang lebih jelas tentang hasil pemeriksaan dari pihak PKU Muhammadiyah Mayong.  Kemudian tim mendatangi rumah penderita untuk melihat kondisi lingkungan rumah, mendapatkan keterangan dari anggota keluarga dan warga sekitar tentang riwayat penderita dan gejala-gejala penyakit yang dialami penderita. 





Pada kunjungan rumah tersebut juga dilakukan penyuluhan kepada warga sekitar tentang penyakit leptopirosis sebagai edukasi agar warga tahu apa itu leptospirosis, penyebabnya, penanggulangannya, dan terutama cara pencegahannya. 

Memang, sudah seharusnya rumah sebagai tempat tinggal utama kita selalu terjaga kebersihannya. Tidak menjadi tempat timbunan sampah apalagi sarang tikus. Selain kotor dan menjijikkan, binatang tikus juga bisa menjadi perantara penularan penyakit berbahaya. Selain penyakit pes, kita juga perlu tahu bahwa tikus bisa menjadi perantara penularan penyakit leptospirosis, atau yang biasa disebut sebagai penyakit kencing tikus. Meski bisa dibawa oleh hewan lain, seperti sapi, babi, kuda, dan anjing, di Indonesia termasuk Jepara, yang paling sering menularkan penyakit ini adalah tikus. Itulah sebabnya penyakit ini disebut penyakit kencing tikus. Adapun daerah yang rawan terjadi penyakit ini adalah daerah yang sering banjir, karena bakteri itu hidup lama di air, dan manusia rawan terpapar ketika anggota tubuh sering kontak dengan genangan air tersebut. Dan pekerjaan petani juga rawan terkena leptospirosis karena selalu kontak dengan genangan air yang diduga terpapar kencing tikus. Selain itu, pekerjaan yang sering berinteraksi dengan hewan seperti peternak, dokter hewan (karena tidak hanya ditularkan oleh tikus), juga beresiko tertular penyakit ini. 

Adapun proses penularannya: kuman leptospira menghuni darah dan urine hewan yang terinfeksi kuman leptospira, tetapi hewan tidak terlihat mengalami gejala leptospirosis. Hanya saja, kencing hewan dalam hal ini kencing tikus yang terinfeksi, membawa kuman ini dan bisa menularka ke manusia ketika kuman tersebut masuk ke tubuh manusia, baik melalui mulut, mukosa ( pada hidung dan mata), atau kulit yang luka. 

Sejak kuman masuk ke tubuh, gejala akan muncul setelah empat sampai Sembilan belas hari kemudian. Gejala awal masih ringan dan tidak khas sebagai penyakit leptospirosis karena mirip dengan sakit flu, yaitu demam, meriang, pusing, pilek, bisa juga disertai mual, nyeri otot, diare, damn kehilangan nafsu makan.. Setelah lima hingga satu minggu keadaan terlihat membaik, tapi ternyata bisa berlanjut menjadi gejala yang lebih berat, yaitu perdarahan, rusaknya organ-organ tubuh, dan yang khas adalah tubuh seperti orang sakit kuning. Resiko terbesar jika tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat adalah terjadi kematian. Menurut keterangan warga setempat serta anak




, memang beberapa hari sebelumnya Bapak  sakit panas dan flu yang sepertinya hanya penyakit ringan. Tetapi keadaan terakhir ssbelum masuk ruang ICU, badan sudah menguning, telapak kaki kuning, mata kuning dan memerah, mimisan, serta sendi-sendi susah digerakkan. 

gejala berat leptospirosis (gambar dari google)

Tindakan pencegahan agar tidak tertular penyakit ini adalah harus senantiasa menjaga kebersihan rumah dan lingkungan agar tak menjadi sarang tikus, menjebak dan membunuh tikus yang tertangkap, menutup makanan dan minuman, serta sangat penting untuk selalu cuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah melakukan aktivitas-aktivitas. 

Sebagai bentuk tindak lanjut dari kunjungan DKK Jepara dan Puskesmas, selain penyuluhan, warga dipinjami alat jebakan tikus. Juga akan diagendakan penyuluhan dengan skup yang lebih besar yaitu melalui pertemuan PKK. Dan sebagai bentuk penyehatan lingkungan agar tikus tidak betah berada dilingkungan itu, maka diagendakan kegiatan pembersihan sarang tikus (membersihkan rumah dan lingkungan secara serentak), dengan terlebih dulu berkoordinasi dengan pengurus RT setempat. Selain itu, DKK Jepara juga membagikan kaporit untuk digunakan sebagai desinfektan yang dimasukkan dalam sumur (dengan ukuran tertentu yang tidak membahayakan), serta dimasukkan ke selokan-selokan yang dikhawatirkan telah terpapar urine tikus. Pada kunjungan saat itu Bapak Wahono dari Bagian Kesehatan Lingkungan DKK Jepara berkesempatan memberikan arahan tentang tata cara pemberian kaporit kepada warga yang ikut penyuluhan.

 

Kepala Puskesmas Kalinyamatan, Ibu dr. Lupi Murwani M.M. mengatakan, "Dengan kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan dapat memutuskan mata rantai penyebaran kuman leptospira, sehingga tidak ada lagi warga yang tertular penyakit kencing tikus ini."

Untuk Provinsi Jawa Tengah sendiri, dari data tahun 2017 telah ada sebelas kabupaten dengan kasus leptospirosis, di antaranya  Kebumen, Blora, Jepara, Cilacap, Klaten, Magelang, Boyolali, dan Pati. Hendaknya kita semua perlu waspada dengan selalu menjaga kebersihan lingkungan agar tidak ada kasus leptospirosis di sekitar kita. Juga apabila mengalami gejala sperti flu yang kemudian berlanjut dengan keadaan yang lebih berat maka segeralah periksakan diri ke dokter dan minta dilakukan tes laboratorium, agar jika diketahui adanya kuman leptopira maka bisa dilakukan tindakan pengobatan segera.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

[Catatan Ramadhan ke Dua] Inilah Kisah Dibalik Terbitnya Novel Terbaruku: "Serpihan Asa"

        Alhamdulillah… menulis lagi di blog. Alhamdulillah… kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang novel terbaruku yang terbit sebaga...