Selasa, 01 Mei 2018

Ini Dia Kata Mbak Win, Mengapa Ratu Kalinyamat Tahun Ini Pakai Jilbab.


Ratu kalinyamat 2018 yang berhijab
Alhamdulillah…senang sekali pagi ini saya berkesempatan bertemu langsung dengan Mbak Win, seorang wanita inspiratif di Jepara yang beberapa tahun ini membuat saya kagum dan penasaran. Beberapa kali ingin bertemu dengan beliau tapi ada saja kesibukan yang membuat saya tidak jadi ketemu. Seorang teman yang sama-sama pecinta seni, Mas Safiq setiawan menawarkan untuk menemani saya menemui Mbak Winahyu Widayati. Jadilah pukul Sembilan lebih sedikit lah, saya bisa menatap wajah beliau langsung serta berjabat tangan, kemudian dipersilakan duduk di ruang tamu, lebih tepatnya di tempat usaha baru yang sedang dirintis keluarga Mbak Win. 

Mbak Winahyu, seorang ibu rumah tangga yang selama ini juga menjalankan bisnis mebel, adalah sosok yang sederhana, apa adanya, tapi semangatnya dalam mempopulerkan kearifan lokal budaya di Jepara tak kalah dengan para muda. Seperti di tahun-tahun sebelumnya, pagelaran pesta baratan diselenggarakan untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Biasanya diselenggarakan bertepatan dengan malam yang sebagian orang Islam menyebutnya sebagai malam nisyfu sya’ban. Nha, Mbak Winahyu yang lahir pada tanggal 28 September 1975 inilah wanita pencetus pagelaran seni baratan dengan rangkaian acaranya, bersama sanggar lembanyung yang didirikannya di tahun 2004. 

Kebetulan, menurut Mbak Win hari ini anak-anak lembayung akan datang untuk melakukan briefing setelah pesta baratan tahun ini terselenggara pada Hari Minggu, tanggal 29 April 2018. Sepertinya saya memang sedang beruntung hari ini. Ketika saya datang belum pada berkumpul. Hanya ada satu orang yang datang bersamaan dengan saya, yang kebetulan adalah ketua panitia pesta baratan tahun ini, namanya Sodikin dari Desa Kriyan. 
Mbak winahyu ada di tengah

Sambil menunggu kedatangan yang lain, saya mulai saja melakukan wawancara.
Pertama yang ingin saya tanyakan adalah tentang tempat penyelenggaraan yang berubah-ubah. Sebelum tiga tahun ini, beberapa tahun berturut-turut, rute arak-arakan Ratu Kalinyamat dan pembawa impes (lampion) adalah dari Masjid Al Makmur Kriyan menuju pendopo Kecamatan Kalinyamatan. Kemudian finish arak-arakan beralih ke lapangan Kenari Purwogondo, tahun berikutnya ke lapangan sebelah kantor UPT Disdikpora Kalinyamatan (belakang pasar Kalinyamatan), dan kali ini beralih lagi ke lapangan Desa Banyuputih.

Wanita lulusan IKIP Negeri Semarang JurusanPendidikan Prancis ini  dengan tersenyum menjelaskan, bahwa sebenarnya untuk tahun ini, dalam proposal penyelenggaraan acara sudah direncanakan bahwa finish arak-arakan dan penampilan panggung teatrikal ada di lapangan kenari Purwogondo. Akan tetapi ada beberapa hal yang kemudian menjadikan finish acara tersebut diputuskan dipindah di lapangan Banyuputih. Kenapa saya tanyakan ini? Karena menurut pengamatan saya, justru letak penyelenggaraan teatrikal sudah cocok di Purwogondo, karena letaknya ada di tengah-tengah wilayah Kalinyamatan, bisa menampung banyak penonton dari pada saat di kantor kecamatan. Dan…yang pasti tempatnya tetap tidak jauh dari kediaman saya (Taman Baca Pelangi Cita)- ini alasan pribadi sih… hehe. Beberapa warga memang agak kecewa karena mereka merasa kecele, sudah nunggu-nunggu di jalan yang dianggap akan dilewati arak-arakan Ratu Kalinyamat, ternyata rutenya diganti. Termasuk dua malam di dua tahun berturut-turut ini…. masih ada beberapa warga yang salah lokasi menunggu arak-arakan. 


Memang…beberapa kebijakan dari Polres, dan Pemerintah Desa yang mungkin memikirkan kemaslahatan bersama membuat tim lembayung harus rela mencari rute yang dianggap paling aman. Salah satu peraturan Polres yaitu, rute arak-arakan  tidak boleh melewati jalan protokol (jalan besar). Memang, dari tahun ke tahun, pesta baratan selalu sukses menyulap jalan raya menjadi lautan manusia, dan tentu saja menjadikan jalanan macet, Tetapi… kalau menurut saya pribadi, bukankah lautan manusia itu adalah bukti bahwa acara ini begitu dikangeni masyarakat? Oke…taat pada peraturan adalah satu sikap professional dari tim lembayung yang tetap gigih menyelenggarkan acara dari tahun ke tahun bagaimanapun tantangan yang dihadapi. 

Dan ternyata, menurut penuturan Mbak Win, pihak Desa Banyuputih sangat antusias dengan pindahnya rute akhir arak-arakan ke lapangan Banyuputih. Maka legalah panitia tahun ini, meski start acara tidak boleh di Masjid Krian seperti tahun-tahun sebelumnya, karena pastinya arak-arakan akan melewati jalan besar. Artinya melanggar peraturan dari Polres. Meski akhirnya start arak-arakan ada di Kantor KUD, tetapi untuk pembukaan dan ritual keagamaan tetap ada di Masjid Al Makmur Kriyan yang dihadiri segenap Stake Holder dari Kabupaten, juga dari Kecamatan. Artinya? Baratan tetap menjadi moment yang diakui sebagai tradisi penting di Jepara.
Prosesi di masjid Al Makmur Kriyan

Dan karena start arak-arakan dipindah di Margoyoso, warga Kriyan pada protes, kenapa nggak dari Kriyan seperti biasanya? Nha, berarti mereka merasa kehilangan, meski acara seremonial pembukaan ada di masjid Kriyan.Karena dari awal, dari tahun ke tahun, start arak-arakan  selalu dari Kriyan. Memang jadi serba salah, kata Mbak Win. 

Kemudian… saya menanyakan tentang satu hal, yang menjadi fenomena menarik tahun ini tentang pesta baratan. Tidak seperti sebelumnya, kali ini ada yang berbeda dengan penampilan Ratu Kalinyamat. Ratu Kalinyamat memakai jilbab. Meski secara keseluruhan belum sempurna dalam untuk model hijabnya, tetapi ini adalah sebuah perkembangan baru. Lalu saya bilang, bahwa penampilan Ratu Kalinyamat kali ini seperti yang pernah saya tuliskan di blog saya, bahwa saya berharap suatu hari nanti ingin melihat penampilan Ratu Kalinyamat yang membawa syiar islam, mungkin nggak ya...
Lalu bagaimana menurut Mbak Win tentang hal ini?

“Saya sebenarnya dari awal memang ingin performa pesta baratan bernafaskan islami. Tapi ya memang tidak bisa serta merta langsung seperti mau saya, karena memang dari sejarah yang kita tahu memang kita belum menemukan gambar Ratu Kalinyamat berhijab. Kami sesuaiakan dulu lah dengan apa yang kami tahu sesuai dengan pakaian kerajaan jaman dulu. Tetapi kemudian saya berpikir…saat ini memakai jlbab adalah sudah menjadi hal umum. Nha, padahal menurut sejarah, Ratu kalinyamat waktu itu meeluk agama islam. Nha… manusia dari waktu ke waktu kan dinamis, mengalami perubahan demi perubahan dengan harapan  menjadi lebih baik. Kenapa juga, kita sebagai penggerak dan pencipta budaya itu tidak boleh melakukan perubahan. Pencipta budaya kan manusia itu sendiri toh? Jika ada yang protes karena dianggap menyalahi sejarah atau tradisi..., sekarang begini, Ratu Kalinyamat sendiri kan orang islam, kita toh tidak pernah melihat bukti asli berupa gambar foto yang memang memeperlihatkan sosok asli Ratu, selama ini yang dianggap penampilan asli kan juga lukisan, bukan foto. Bisa jadi... siapa tahu dulu Ratu Kalinyamat juga mengenakan baju islami, bisa jadi kan? Tapi intinya... kita tidak perlu mempermasalahkan itu sih..., mana penampilan yang asli menurut sejarah."
Arak arakan yang berjilbab

Saya tersenyum dan mengangguk setuju. Sebenarnya saat ini sudah ada beberapa anggota Lembayung lainnya yang datang. Mereka juga ikut mengangguk angguk tanda setuju dengan Mbak Win,  senior mereka.

Lalu istri Mas Alwin Naja ini melanjutkan lagi, “Dan saya juga nggak mau nanggung dosa ketika seorang seniman yang berhijab tiba-tiba harus melepas hijabnya hanya karena terpilih memerankan Ratu Kalinyamat. Itu saya nggak berani naggung dosanya, ya kan? Nha misalnya ada yang protes, kan bisa cari pemeran yang tidak berjilbab? Wah, ya nggak bisa begitu. Jaman sekarang banyak remaja berpotensi yang berjilbab. Jaman sekarang tata rias juga canggih, semua bisa diakali, dibuat tetap menyerupai ratu , tapi tetap berjlbab, kalau bisa, why not gitu lhoh.”

Penari impes juga memakai kerudung
Prajurit yang juga berhijab





Saya merasa marem dengan jawaban Mbak Win. I lope you Mbak..., kata saya dalam hati.
Lalu saya teringat akan penampilan Nyi Ratu, yang sepenglihatan saya, kakinya masih nampak karena celananya hanya selutut, dan lengannya juga masih terlihat. Saya beranikan diri menanyakan itu. Ya, dengan harapan, tahun depan siapa tahu bisa diupayakan pakaian Ratu sempurna berhijab, pakai celana panjang, dan lengan panjang. Dan... ini dia jawaban Mbak Win.

“Ooh.. iya, ini kan kita masih berproses. Tapi setidaknya kami sudah berupaya lah untuk sedikit demi sedikit memasukkan unsur islami, pelan-pelan... Tapi yang kemaren itu sebenernya Ratu pakai kaos kaki selutut. Jadi, meski celananya separuh, kakinya nggak langsung kelihatan. Dan lengannya, Ratu pakai manset. Jadi, tidak terlihat langsung lengannya...Untuk sanggul dan rambut pasangan masih dipakai diluar jilbab"

Ratu di barisan pertama arak arakan

Aksi panggung Sang Ratu yang memakai kaos kaki dan manset lengan.

“Oooh..., gitu...” sahut saya manggut-manggut.

“Ini juga karena keterbatasan kostum sih ya, untuk tahun ini kami baru bisa mengupayakan yang seperti itu. Semoga ke depan lebih siap dan lebih baik. Ohya, untuk rombongan dayang-dayang jug a sebagian ada yang berjilbab, ada yang memamkai kerudung meski tidak sempura menutup, ya itu tadi...kita berproses...tapi saya senang, merasa ini lebih baik daripada tahun- tahun sebelumnya.”

Nha, terjawablah sebagian rasa penasaran saya tentang penyelenggaraan kirab Ratu Kalinyamat terutama untuk tahun ini. 

“Ohya mbak, kalau untuk memilih tata rias, penentuan salonnya gimana?” ternyata timbul rasa penasaran baru lagi di hati.

“Ooh...itu, ya saya nyari salon-salon yang mau berkontribusi untuk acara ini. Saya umumkan, saya japri salon-salon yang saya kenal, saya lihat di facebook beberapa salon, lalu saya japri, saya tawarkan...gitu. Dan dari tahun ke tahun kami mendapatkan salon yang mau merias Ratu Kalinyamat dengan gratis. Beberapa tahun sempet dipegang Salon Rini sih untuk Ratunya. Untuk tahun ini, selain salon yang merias Ratu, yaitu salon Zahra,ada juga salon-salon lain yang menyediakan diri untuk andil merias peserta arak-arakan lainnya, juga dari SMK Kalinyamatan jurusan tata rias menyediakan diri membantu. Cuma memang kami menyediakan kosmetiknya. Lumayan sih habisnya saya belanja perangkat kosmetik untuk baratan ini..., Kalau untuk tahun depan, sudah ada yang mbooking sanggup merias Ratu dan semuaa peserta pesta baratan. Gabungan perias mayong Kalinyamatan.”

Wah,,,makin ke sini makin seru aja obrolan kami. Personil Lembayung ikut tertawa-tawa mendengarkan kami. Tentu tak semua obrolan saya share di sini. 

“Mbak, kalau boleh tahu, Mbak Win beli kosmetik merk apa?” tanya saya sambil tertawa. Dan begitu MbakWin menyebut sebuah merk kosmetik, saya tahu itu merk yang bagus. Tidak tanggung-tanggung, karena Mbak Win juga survei pada teman-temannya sebelum membeli, kosmetik yang bagus, yang hasil riasannya baik, juga yang aman untuk kulit.

“Lalu, untuk pemilihan ketua panitia, gimana Mbak?”

“Ya, yang dipilih bisa siapa saja yang bersedia. karena untuk jadi ketua pastinya dibutuhkan pengorbanan waktu dan pikiran juga ya. Pokoknya yang bersedia kami beri kesempatan. Kebetulan tiap tahun memang berganti, biar ada regenerasi dan tidak monoton dengan orang yang sama.”
Dan bagi saya, sosok Mas Sodikin ini juga terbilang baru di Lembayung. Saya belum pernah melihat beliau sebelumnya diantara anak-anak Lembayung. Ataukah mungkin saya yang sudah lama tak mengikuti perkembangan Lembayung? Di kesempatan lain sepertinya kita perlu membahas sosok Mas Sodikin secara khusus ya...

Ohya, Mbak Win... satu lagi tentang teatrikal Ratu Kalinyamat ini, “Mbak, apakah tiap tahun cerita dan aksi panggung Ratu Kalinyamat selalu sama? Seperti alur cerita dan dialog-dialognya?”

Begini animo masyarakat terlihat dari atas panggung

Spektakuler di lapangan Banyuputih

“Ooh...nggak..., tiap tahun jalan cerita dan atraksinya tidak sama. “ sahut Ibunda dari Abiyu Baldwin Naja ini. “Tergantung sutradaranya, yang membuat skenario cerita maunya gimana.  Dan untuk pemilihan sutradara juga siapayang mau saja, karena jadi sutradara juga tidak ringan.  Di Lembayung banyak yang berpotensi, tapi menjadi sutradara juga lumayan berat. Jadi kami akan saling  mendukung  siapapun yang jadi ketua panitia. Ya memang di setiap tahunnya ada kurang dan kelebihannya masing-masing, jadi yang penting kami saling support dan saling mengisi.”

Hmm... ternyata banyak hal menarik yang bisa saya gali dari perbincangan kami pagi ini.  Apalagi performa arak-arakan tahun ini memang menurut saya lebih bervariasi, meski kesan magis sepertinya tak begitu terasa seperti yang pernah saya rasakan di tampilan baratan beberapa tahun sebelumnya. Variasi yang saya maksud adalah adanya tampilan lampion-lampion besar nan indah, juga ikut sertanya grup aklung dalam arak-arakan. Menurut Mbak Win, Lembayung terbuka untuk siapa saja yang ingin berpartisipasi dalam acara baratan bersama Lembayung. Lampion besar itupun juga dari kelompok kecamatan lain. Jadi, sebelumnya ada lomba lampion kreatif yang diadakan Lembayung di hari Sabtunya, pesertanya justru dari tempat lain, yang tampilannya bisa kita lihat diantaranya lapion naga dan burung merak.  Mbak Win berharap, ke depan lomba lampion iniakan berlanjut dan diikuti oleh lebih banyak peserta. Tahun ini karena baru dirintis, pesertanya baru ada enam.  Tahun ini arak-arakan juga diramaikan oleh partisipasi  dari teater Empluk.

Saya sebenarnya masih ingin berlama-lama dengan mereka, ingin mewawancarai setiap personil satu persatu. Tapi apa daya, saya yang ibu rumah tangga seperti halnya Mbak Win ini, harus membagi waktu untuk kegiatan lainnya yang juga penting. 

Safiq Setiawan dan Riswanda (pemain dalam teatrikal)

Nung (NurH Tauchid dan Mas Alwi Naja suami Mbak Win)

Sodikin, ketua panitia th. 2018

Namun sebelum pamitan, ada satu pertanyaan lagi yang saya lontarkan, yaitu tentang apa harapan tim Lembayung sehubungan dengan perayaan teatrikal baratan ini.  Mbak Win memberi kesempatan kepada teman-teman untuk menjawab.  Kali ini Mas Nung yang menjawab, “Kami berharap kepada masyarakat, bahwa kamiingin masyarakat tahu, bahwa Lembayung ini adalah wadah bagi siapasaja yang ingin berpartisipasi, melebur dengan kami dalam penggrapan  ritual arak-arakan dan teatrikal Ratu kalinyamat. Jadi, justru adanya Lembayung menjadi sarana penyatu, agar tidak ada salah satu pihak yang merasa bahwa baratan adalah milik desa tertentu saja. Baratan adalah milik Jepara. Kami justru bangga jika keberadaan Lembayung menginspirai pihak lain yang juga ingin mengadakan acara tradisi baratan. Juga kami terbuka jika pihak lain ingin melakukannya bersama kami. 

Puas dan bahagia rasanya bisa lesampaian berbincang langsung dengan Mbak Win dan kawan-kawan. Saya menyebutnya kesempatan emas. Kami pun berfoto bersama sebelum saya pamit pulang. Saya berharap masih akan ada pertemuan-pertemuan berikutnya, tentu dalam hal kebaikan. Bagaimanapun, siapa saja boleh berpendapat tentang hal-hal baru yang terlihat di pagelaran pesta baratan di tahun 2018 ini. Ada yang pro, ada yang kontra. Kalau saya pribadi, lebih ingin melihat dari sisi baiknya saja, yang penting tidak merugikan atau menyakiti orang lain. 

Bravo Lembayung!
Bravo Jepara!
Saya bersama Mbak win dan anggota Lembayung lainnya


Sponsor dalam penyelenggaraan Pesta Baratan yayasan  Lembayung tahun ini









4 komentar:

  1. seumur hidup belum pernah nonton langsung pesta baratan aku mbak. haha. padahala asli orang njeporo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayaknya harus disempatkan deh ya.... sekarang tidak pas malam nisfu sya'ban kok. tapi sebelumnya, biar tidak tabrakan dengan ritual baca yasin spt yg biasa dilakukan masyarakat.

      Hapus
  2. Rame banget yaaa
    Aku gak nonton

    BalasHapus
  3. ayooob, th depan pd nonton yaa

    BalasHapus

Entri yang Diunggulkan

[Catatan Ramadhan ke Dua] Inilah Kisah Dibalik Terbitnya Novel Terbaruku: "Serpihan Asa"

        Alhamdulillah… menulis lagi di blog. Alhamdulillah… kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang novel terbaruku yang terbit sebaga...