Minggu, 15 Juli 2018

Cuma Latihan Nulis...



               Dia marah. Suaranya meninggi, wajahnya menegang dan bulatan matanya membesar. Aku sejenak terhenyak tak menyangka akan reaksinya setelah mendengar kalimatku barusan. Aku seolah tak mengenalnya yang biasa terlihat sedikit tertutup dan pemalu. Kemarahannya seolah sebagai cara lain untuk menghentikanku mencampuri urusannya. Tak apalah… dia boleh berasumsi apa saja tentangku. Asalkan misiku berhasil, menolongnya dari sebuah kejadian yang aku tak sanggup membayangkannya terjadi. Mungkin caraku sedikit menjengkelkan, bahkan terlihat ndeso dan sok tahu. 

“Baik, maaf… aku tak bermaksud seperti itu, aku hanya memikirkanmu.”

“Untuk apa kamu memikirkanku?? Apa perlunya?!” suaranya kembali lantang. 

              Haduh…aku jadi serba salah. Ingin kukatakan padanya, “Pelankan suaramu…”. Teriakannya itu sudah barang tentu terdengar oleh adiknya, ibunya, bapaknya, atau siapapun yang ada di dalam rumahnya. Aku jadi malu. Entah apa yang mereka pikirkan saat ini. Kami sedang bertengkar? Aku sudah menyakitinya? Aku berkata keterlaluan sehingga dia membentakku? 

Teringat empat tahun yang lalu…





Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

[Catatan Ramadhan ke Dua] Inilah Kisah Dibalik Terbitnya Novel Terbaruku: "Serpihan Asa"

        Alhamdulillah… menulis lagi di blog. Alhamdulillah… kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang novel terbaruku yang terbit sebaga...