Senin, 30 Juli 2018

Ini Dia, Sejarah Lahirnya Buku 'Petualangan Seru Saqila dan Sadida'

 “Mama…selamat ya…, ini buku mama…!” sambut Najwa saat aku pulang kerja.
Alhamdulillah… Alhamdulillah… Alhamdulillah, itulah kata-kata yang mengalir dari bibir ini saat menerima buku biru itu dari tangan anakku. Dan mataku mulai terlapisi air mata bahagia, meski tak sampai menetes. 

Maturnuwun Gusti… setelah penantian yang cukup lama akan terbitnya buku cerita anak ini. Petualangan Seru Saqila dan Sadida, buku anak pertama yang kutulis bersama seorang penulis muda produktif, Kazuhana  El Ratna Mida.
 
Ada cerita berliku sebelum buku ini benar-benar “lahir” dan dipajang di Gramedia atau toko buku lainnya. Ide cerita yang sudah ada di otak bertahun-tahun lalu itu tak serta merta langsung bisa diterima oleh penerbit. Sampai dibelain sakit batuk berkepanjangan dan dicurgai kena TB paru oleh beberapa teman, demi lahirnya buku ini.

Lha sebegitunya? Iya, begini ceritanya…




Dalam sebuah grup menulis (Be A writer) beberapa tahun lalu , ada proyek membuat Picturial Book untuk anak usia TK sampai SD kelas bawah. Aku yang merasa kurang berbakat menulis ini berpikir keras tentang ide cerita yang akan kutulis. 

Merenung, melamun, berkhayal….tentang itu. Tiba-tiba teringat sesuatu…
Ah, dulu waktu hamil anakku yang ke-dua, aku punya pilihan nama yang akan kuberikan jika sudah lahir nanti, Sadida atau Saqila jika perempuan. Nama-nama itu kuambil dari kata Qaulan Sadida dan Qaulan Saqila. Dua kata itu ada di dalam sebuah surat dalam Al-Qur’an. Qaulan Saqila artinya perkataan yang jelas/jernih, sedangkan Qaulan Sadida artinya perkataan yang benar/tepat. Jadi, begitulah sejarah nama Sadid. Karena yang lahir laki-laki, jadinya aku penggal sendiri.. jadi Sadid, aslinya ya Sadida itu. (Kalau misal ada yang protes penggalannya ngasal, ya….harap maklum dan dilarang protes. didoakan saja yang baik-baik… 
Nha, begitulah. Akhirnya tercetus ide untuk menjadikan Saqila dan Sadida sebagai nama tokoh dalam bukuku. Sepertinya belum ada buku yang seperti itu deh, pikirku. Ingin sekali bikin buku seperti karya The Pipiet Senja, buku cerita bergambar dengan ilustrasi dari Kang Nonoy, seperti buku pertama yang kubelikan untuk Najwa, anak pertamaku. Aku sangat menyukai buku itu. 
Akhirnya kubuat draf cerita dengan format sebagai buku bergambar untuk anak TK atau SD kelas bawah, seringnya disebut Picturial Book. Ceritanya tentang kehidupan sehari-hari anak-anak dengan pesan akhlak yang terkandung dari sebuah dalil, bisa Hadits atau Al-Qur’an. Naskah itu kukirim ke sebuah penerbit mayor, dan melanjutkan perjuangan dengan berdo’a. 
 
Beberapa bulan kemudian datang sebuah email, surat cinta, sebuah penolakan. Yah… agak sedih sih, tapi itu hal biasa. Perjuangan penulis buku ya seperti itu, berani menulis, berani ditolak, berani rombak tulisan, berani kirim lagi, berani dapat royalti…hahaha. Terbit aja belum, minta royalti.
Ditolak, naskahku kubiarkan lama hibernasi di dalam komputer. Aku mengerjakan beberapa naskah lain. Mungkin aku belum cocok di dunia anak, pikirku santai.

Hingga bertahun kemudian, saat buka file-file lama, tiba-tiba muncullah kembali keinginan itu karena merasa sayang jika tulisan itu dibiarkan taka da yang membaca. Namun sebelum kukirim ke penerbit, aku sempat konsultasi dulu sama beberapa penulis buku anak, seperti Shabrina Ws, Lia Herliana, dan Nurul Ikoma yang sudah malang melintang di dunia perbukuan. Mereka memberikan masukan-masukan, baik tentang isi naskah ataupun referensi alamat penerbit yang bisa terima naskah anak. Buku anak yang sederhana, ternyata tak sederhana dalam penulisannya. Selain ide yang unik, bahasa yang digunakan juga harus ‘sederhana’. Bagi penulis ‘dewasa’, menyusun bahasa yang ‘sederhana’ itulah yang tidak sederhana.

Mimpi terbesarku memang menjadi penulis, meski perjuangan di situ tak mulus dan penuh tantangan. Meski ada juga penulis yang mudah sekali mendapatkan job yang sempat juga membuatku iri, tapi bagiku saat ini sudah kebal. Sebuah kemudahan pastilah berawal dari perjuangan juga.  Berjuang untuk menalukkan tantangan dunia kepenulisan. Pastilah beliau-beliau berjuang jatuh bangun sebelumnya. Menulis bukanlah arena persaingan, tapi sarana menyalurkan ide atau pesan kepada dunia. Persaingannya bukan dengan penulis lain, tapi dengan diri sendiri yang sering terlena dengan seribu alasan. Justru penulis lain adalah teman seperjuangan yang seharusnya akan membantu kita untuk maju, entah dari segi support motivasi atau memberi masukan-masukan tentang perbaikan naskah.

Namun, terkadang dalam hidup ini, kita tak selalu bebas hanya mewujudkan mimpi utama. Ada mimpi-mimpi orang-orang tercinta yang harus kita pertimbangkan. Ada cerita hidup tak biasa yang kadang memaksa kita mengambil jalan lain sebagai solusi. Dan Allah menghendaki itu. Alhamdulillah, aku diterima bekerja di sebuah instansi pemerintah meski bukan sebagai PNS. Atas saran suami kujalani dunia baru itu. Meski bukan dunia menulis, tapi aku menikmatinya, karena ternyata ilmu yang pernah kudapat di bangku kuliah kini berguna, bermanfaat untuk diri sendiri dan orang banyak.  Ini juga lahan juang, kan?

Bertepatan dengan itu, kesempatan untuk mewujudkan naskah Saqila Sadida menjadi buku terbuka lebar. Melalui bantuan sebuah agensi, naskahku di ACC penerbit, tapi dengan syarat. Aku harus merombak format naskah menjadi bacaan untuk anak SD, yaitu sebagai kumpulan cerpen. Aku diberi waktu hanya sebentar, padahal ada dua puluh naskah cerpen yang diminta. Padahal….padahal….

Rasanya tak mungkin menyelesaikan permintaan penerbit dalam waktu sesingkat itu. Sementara aku seperti tak punya waktu lagi karena pas mulai masuk dunia kerja. Pergulatan batin, kerjakan permintaan penerbit, atau lupakan, dan bukuku itu entah kapan lagi terwujud.
Tiba-tiba seperti mendapat bisikan dari Allah, untuk mengerjakan proyek itu duet. Aku melirik akun FB Ratna Hana Matsura menjadi pilihanku.  Anak Jepara juga. Masih muda, belum menikah, dan sangat produktif. Aku perlu seseorang yang benar-benar bisa membantu proyek ini selesai di waktu yang amat sempit. Kupikir bagi seorang Hana, proyek ini mampu dikerjakannya, dan ia tinggal di satu kota. Itu yang penting.

Masalah lain adalah, penerbit minta penulis mencari illustrator sendiri. Huaahh… ini pengalaman pertama bagiku. Entah mengapa yang ada di otakku hanya Kang Nonoy. Aku pun search FB Kang Nonoy, kirim inboks tawaran kerjasama, tawar menawar harga, dsb-dsb, dan… deal, kami pun teken kontrak. Hana pun setuju saja, Alhamdulillah…

Mimpiku punya buku anak dengan ilustrasi dari Kang Nonoy hampir terwujud. Dan, bukunya duet sama penulis produktif yang selalu membuatku berdecak kagum. Bagiku, ia seperti Adi Zam Zam ke dua. Ya Allah… Kau begitu mencintaiku, menuruti segala mauku. “Maka nikmatku yang mana lagikah yang akan kau dustakan?”

Semoga semua ini bisa menjadi sarana juang di ladang kebaikan, Aamiin.
Sebentaaar…., sebelum ilustrasi dibuat, penerbit minta naskahnya jadi dulu, direview, dan jika lulus baru boleh mengerjakan ilustrasi. Dalam rangka mengejar DL, yang kebetulan berbarengan dengan aktivitas sebagai karyawan baru serta kegiatan lainnya yang sama pentingnya, maka aku bela-belain tak tidur malam selama beberapa hari. Hingga aku yang sebelumnya sudah tidak enak badan, menjadi makin parah. Parah dalam artian batukdan pilekku makin menjadi.

Di saat aku hampir putus asa, justru Hana yang memberi semangat. Oh sayang, selain cerdas, kamu juga baik hati. Kamu mau bergabung denganku meski karyamu sudah banyak: buku, cerpen, resensi. Dengan  karyamu yang ikut menghiasi buku ini, pastilah membuat buku kita makin berbobot. Sayangnya meski satu kota, kita belum pernah ketemuan hingga saat tulisan ini diketik. Terimakasih banyak ya…

Saat mengerjakan ilustrasi pun seru, beberapa kali terjadi salah persepsi antara aku dan Kang Nonoy. Aku minta gambar onde-onde, eeh Kang Nonoy gambarnya nggak kayak onde-onde. Ya aku suruh bikin lagi yang mendekati onde-onde. Tapi Kang Nonoy juga ngasih beberapa masukan, contohnya tentang pembedaan karakter tokoh Saqila dan Sadida. Karena tokoh utama sama-sama anak perempuan, maka harus ada sesuatu yang membedakan ciri mereka. Kang Nonoy memberikan kacamata untuk salah satu tokoh. Aku pun langsung setuju. Apa yang kudapat dari Kang Nonoy langsung kusampaikan ke Hana. Pendapat Hana kusampaikan ke Kang Nonoy… dan seterusnya. Seru! 

Alhamdulillah… akhirnya semua selesai tepat waktu. Berkas kukirim, dan perjuangan kami selanjutnya adalah berdoa supaya prosesnya lancar. Target terbit adalah bulan puasa yang akan datang. 

Sementara itu, sakit batuk dan pilekku tak kunjung mereda. Aku jadi malu dengan teman-teman kantor. Sudah hampir dua bulan aku kerja, tiap hari batuk. Hampir saja aku periksa dahak (dan seharusnya memang periksa sejak batuk lebih dari tiga minggu). Tapi dokter langgananku bilang, batukku karena alergi dan kondisi badan yang tidak fit.  Nafsu makan meningkat, berat badan justru naik juga. Beberapa teman bilang bahwa aku harus periksa laborat. Lama-lama aku hapal, ternyata batuk muncul saat pagi hari. Nanti siangan mereda dan normal. Maka tiap pagi aku minum air hangat, dan itu cukup menolong. Juga membawa permen jahe, itu juga lumayan menolong meredakan batuk. 

Alhamdulillah... lama-lama batuk dan pilek sembuh sendiri. Dan BB stabil cenderung naik...hehe.

Bulan puasa tiba… Namun kabar tentang buku kami tak kunjung tiba. Hari demi hari, bulan demi bulan, meninggalkan momen lebaran. Tak ada kabar tentang buku kami. Aku pun mulai mengendurkan harap. Bukan berarti putus asa, tapi…mulai pasrah saja kapan buku akan terbit. Tidak terlalu menunggu kabar lagi. Haha…itulah bagian dari rona-rona perjuangan penulis, dilatih untuk penuh kesabaran.

Waktu berjalan… aku malah hampir lupa dengan buku Saqila Sadida. Bulan Puasa datang lagi. Artinya sudah lebih dari setahun buku Saqila Sadida nginep di penerbit. Mungkin masih dipoles, di-lay out, di-make over lah sama penerbit biar lebih ciamik. Meski sudah bulan puasa aku tidak terlalu berharap juga, apa pun yang akan terjadi, maka biarlah terjadi. Tapi tetap berdoa bahwa tulisan kami akan membawa manfaat, Aamiin. Dan memang hingga beberapa hari setelah hari H lebaran, belum ada kabar apa-apa. Biasa saja sih… mungkin masih tahun depan, nunggu giliran dicetak di antara naskah-naskah lain yang lolos dapur penerbit. 

Dan…Alhamdulillah…hari itu, anakku memberikan bungkusan paket dari agensi, yang ternyata isinya buku bukti terbit. Buku manis berwarna biru mengkilap dengan nama Saqila Sadida dicetak besar, bertinta gemerlap. Woow…, MasyaAllah…buku yang lucu tapi sangat cantik. Meski ilustrasi covernya tak persis dengan desain kami, tapi….aku tetap sangat gembira memeluk buku itu. Ya… mungkin bagian lay out penerbit punya pertimbangan lain mengapa ilustrasi cover berbeda dengan desain semula.


Alhamdulillah… Alhamdulillah… Alhamdulillah…
Yuk, mari dicari di Gramedia atau tobuk lain, tobuk online juga ada kok…
Semoga bemanfaat untuk anak-anak di Indonesia.., Aamiin.




















16 komentar:

  1. Waa..... Selamat ya Mbak .Perjuangannya berliku sekali. Terasa benar bagaimana menyisihkan satu per satu batu penghalang untuk mewujudkan kisah Sadida dan Saqila. Beberapa batu penghalang bahkan bisa dijadikan batu loncatan.
    Kereeen...

    Senoga semakin banyak karya luar biasa tercipta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...makasih byk mbak susi udah singgah..., matursuwun doanya...
      doa yg sama untukmu juga ya..

      Hapus
  2. Semoga buku ini bisa membawa manfaat bagi kita dan banyak orang ya Mbak :)

    BalasHapus
  3. Mantaaap. Aku belum pernah nulis buku. Dan hanya ngerasain kalo proses nulis itu memang panjang. Aku nulis di blog dr 2012, baru dilirik klien untuk dapat job dua tahun kemudian :D Tapi ternyata untuk nulis buku perjuangannya lebih masya Allah ya. Aku sepertinya belum sanggup mungkin.

    Untung ya, ada Mbak Ratna yang jadi partner yang sangat profuktif :D

    Barakallah ya Mbak, Allah jawab semua perjuangan Mbak. Insya Allah nggak ada yang sia-sia. Semoga bukunya bermanfaat bagi anak-anak lain :)

    Aku penasaran dg isi cerita full nya. Pengennya kalo dapet buku ini pasti kubacain ke anak-anak. Karena aku menanamkan untuk suka baca buku dari kecil hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. trimakasih mbak ade sudah singgah....begitulah, perjuangan mmg tidak mudah, tapi rasanya manis ya mbak..... Saya juga kagum dg para blogger yang sukses..., smg niat baik kita diridhoi Allah ya mbak...

      Hapus
  4. masya Allah, perdjoengan jang soenggoeh soenggoeh dari mba Ella demi mewujudkan mimpi menembus media 😂 Alhamdulillah akhirnya terbayar lunas penantian dan kerja keras ya mba. Saya sepakat perlunya kawan yang menjadi teman diskusi dan mengoreksi terlebih lagi perlu koneksi dg penerbit tertentu yg cucok. Saya menyadari menjadi penting banget punya jaringan perkawanan yang luas, baik penulis, penerbit maupun para kreator yang produktif.

    Kini saya juga tengah berjuang menulis cerita anak mba, jadi harapannya saya memperoleh buku ini dan bisa menjadi bahan pembelajaran saya dalam membuat cerita anak hehe. Semoga laris manis bukunya dan disukai orangtua maupun anak anak ya mba. sukses selalu mba ella dan mba ratna 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin...trimakasih doanya....
      iya...kita memang sebaiknya saling belajar dari teman..., selalu ada yg bisa kita pelajari dari orang lain. semoga buku yg ditulis segera terbit ya...Aamiin...

      Hapus
  5. Bismillahirrahmaanirrahiimi
    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

    Salam kenal dan silaturrahim mba ella
    "Kekuatan niat yang diperjuangkan dengan penuh kesungguhan"
    Ada niat, ada jalannya.
    Begitulah saya memaknai aliran rasa mba ella dalam proses pembuatan buku ini.Saya cukup sering merasakan hal ini, ketika saya benar benar memiliki niat baik yang kuat, Allah senantiasa mempermudah urusan saya. Allah memang Maha Baik, memudahkan realisasi niat kita dengan cara yang tak terduga namun menenangkan, nikmat sekali. Kalau istilah Prof Yohanes Surya, Semestakung (semesta mendukung). Begitulah yang dialami mba ella, kekuatan niat untuk menebar manfaat melalui karya sendiri dan dipermudah oleh pertolongan-Nya melalui perantara teman nulis (mbak hanna) dan juga ilustrator. Saya acungkan jempol karena telah memilih partner menulis seproduktif mbak hanna,pilihan yang tepat. meskipun saya mengenal beliau sebatas dalam semesta maya, namun beliau sosok penulis teladan yang kiprah literasinya begitu baik.

    Ahh saya jadi malu, impian ingin punya buku karya sendiri tapi masih belum bisa memantaskan diri untuk mewujudkannya, mohon doanya ya mbak!

    Sebagai seorang ibu yang begitu berbinar-binar saat bertemu dengan buku dan dunia kepenulisan, saya sangat merasakan apa yang mba ella alami. Kelak, karya (buku) tersebut bisa menjadi warisan ilmu buat anak anak mba ella, menjadi kebanggaan bagi mereka karena bundanya meninggalkan rekam jejak yang bersejarah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikum salaam..., terimakasih mbak..saya terharu sekali. Mbak, semoga cita cita mbak untuk bisa menerbitkan buku segera mendapatkan jalan ya...., Semoga Allah mengabulkan..Aamiin

      Hapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  8. Assalamualaikum mbak Ella.

    Pertama tentu saya mengucapkan selamat kepada Mbak Ella, Mbak Hana dan Mas Nonoy atas lahirnya karya Anda sekalian. Membaca "sirah" atau perjalanan hadirnya buku tsb membuat saya sangat terkagum pada kesungguhan dan kegigihan Mbak Ella. Apresiasi setinggi-tingginya amat layak saya berikan pada kalian bertiga tentunya.

    Kedua kalinya saya akan sedikit memberikan semacam komentar atau kesan saya pada kronologi terciptanya buku tsb. Saya katakan kronologi sebab bacaan saya terhadap buku tsb terbatas hanya pada apa yg ditulis oleh Mbak Ella dan belum membaca buku tsb secara langsung.

    Baik. Menurut pendapat saya ada beberapa poin menarik dari apa yg dituturkan oleh Mbak Ella selaku penulis buku tersebut (tanpa mengurangi rasa hormat saya pada dua nama yg turut serta membidani karya tsb).

    Pertama ialah Hadirnya anak-anak. Saya fikir keinginan kuat untuk menulis buku tidak akan sedemikian kuat tanpa hadirnya buah hati. Hal ini dibuktikan bahwa pemberian nama buku tsb terinspirasi oleh nama anak yang telah dipersiapkan Sebelumnya oleh Mbak Ella dan pasangan. Jadi bagi tiap orang tua, sangat wajar seumpama mereka bisa melakukan apa saja yang mungkin dianggap berat untuk demi anak2 yg mereka cintai. Singkat kata; buah hati ialah energi tiada henti!

    Kedua: Kerendahan hati untuk belajar, bertanya dan memperbaiki kualitasnya dalam bidang tulisan. Hal yang tidak boleh dilewatkan ialah kemauan Mbak Ella yg mau kembali pada "cerita pilu" masa lalu. Yakni memberanikan diri untuk mengirimkan naskah ke penerbit. Padahal ia pernah mengalmi penolakan. Hanya saja Mbak Ella kembali dengan jalan cerita yg baru. Jalan yang ia lewati setelah ia menempa diri. Ia berkenan konsultasi, berdialog dengan para ahli di bidang buku anak. Dalam hal ini, dibutuhkan ketegaran dan kerendahan hati seseorang untuk terus belajar tanpa kenal gengsi. Hal inilah yg akhirnya mengantarkan Mbak Ella pada tahap DITERIMA oleh penerbit major. Sebuah hal yg tidak akan mungkin tercapai jika tanpa memperbaiki kualitas tulisan dengan berani bertanya dan berdiskusi pada para ahli.

    Ketiga: Pantang menyerah. Di saat penulis memiliki seabrek kesibukan lainnya dengan pekerjaan yg digeluti. Serta dituntut untuk menyelesaikan naskah dalam tenggat waktu yg relatif singkat beliau sanggup mengatasi tekanan tersebut dengan gigih. Ia tidak mudah putus asa dan surur. Atas dasar sikap itulah Tuhan akhirnya mengirim sebuah -katalanlah- bisikan nama seorang Mbak Hana lalu kemudian Mas Nonoy untuk melengkapi apa yg musti dilengkapi pada naskah buku tsb. Mungkin inilah keajaiban dari kerja keras dan sikap pantang menyerah. Keduanya seakan menjadi peluru yg dapat menembus target yg dirasa alot dan kuat. Keduanya harus berkejaran. Bila sikap pantang menyerah lebih dominan maka segala target akan didapatkan. Sebaliknya jika ketika terdapat masalah atau kerumitan lalu sikap pantang menyerah menjadi layu maka cita cita akan sulit untuk didapatkan.

    Akhirul kalam. Selamat Mbak Ella. Saya akan mengakhiri tulisan ini dengan pantun.

    Mbak Ella wanita Jepara yg ayu.
    Telah sangat hebat sampai menuliskan buku.
    Jika memang hendak bagi2 buku.
    Kiranya saya lah yg layak mendapatkan hadiah buku. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah, ada pantunnya ya.... lucu tapi juga terharu. Terimakasih banyak, sudah mau singgah dan membaca cerita saya hingga tuntas. Tak ada keberhasilan tanpa usaha, baik secara fisik maupun doa ya....Semoga sukses yaa

      Hapus
  9. Sayang sekali nampaknya yg bikin sayembara tidak serius ingin menepati janjinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudah ada pengumuman, dan hadiah sudah dikirim ke pemenang... bisa cek FB saya... di bulan agustus...

      Hapus

Entri yang Diunggulkan

[Catatan Ramadhan ke Dua] Inilah Kisah Dibalik Terbitnya Novel Terbaruku: "Serpihan Asa"

        Alhamdulillah… menulis lagi di blog. Alhamdulillah… kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang novel terbaruku yang terbit sebaga...