Selasa, 02 Oktober 2018

Senyum yang Paling Kurindu

         
Najwa, anak perempuanku, mondok di Kota Kudus sejak kelas tujuh. Otomatis nggak bisa ketemuan sama keluarga setiap hari. Tapi aku bersyukur, seminggu sekali masih boleh jenguk, dan dia boleh pulang ke rumah dua bulan sekali atau kalau ada libur di hari-hari besar. Waktu masih di kelas tujuh, masih boleh diajak pulang sebulan sekali sih… tapi mulai kelas delapan atas kesepakatan wali murid dengan pihak sekolah, jadwal penjemputan pulang selain libur hari khusus, kini jadi dua bulan sekali. Tapi bukan masalah besar sih bagi kami… baik sebulan sekali atau dua bulan sekali. Toh masih bisa ketemuan seminggu sekali, dan… yang penting anaknya happy

         Beberapa hal memang membuat seorang ibu ketar-ketir akan anak gadisnya yang jauh dari rumah. Begitu juga yang kurasakan. Gimana kalau dia telat makan (ini sih paling bikin kuatir, dia agak males makan selama ini), gimana kalau dia kurang asupan sayur, gimana kalau lupa istirahat, gimana kalau tidak kerasan, dan rasa was-was lainnya. Tapi Bismillah, semua sudah diniati untuk mempersiapkan masa depannya, memberi bekal mental dan spiritual untuk mengarungi samudera kehidupan yang lebih luas kelak, dengan segala pernik-perniknya. Maka kahawatiran-kekhawatiran yang ada berangsur hilang karena kami juga memohon penjagaan dari-Nya. Dengan alasan agar anak kami lebih dekat dengan Allah juga, kami melepaskan dia ke pondok.

         Mantap hati bukan berarti kita cuek-cuek aja sama anak, dan menyerahkan seratus persen segalanya pada pihak pondok. Tentu kita tetap ada upaya agar dia tetap merasakan kasih sayang orang tua, meski sedang mondok. Apalagi di usia SMP ini adalah usia baligh, remaja awal yang umumnya sering labil karena adanya perubahan-perubahan dalam diri anak, baik perubahan fisik maupun psikis. Remaja butuh tempat bertanya, bercerita, menyandarkan kepala saat gelisah. Kami tak ingin ia kehilangan tempat curhat, ia tetap butuh kami untuk menguatkan hati menikmati kehidupan pondok yang berbeda dengan di rumah sendiri. Maka, hingga saat ini kami masih selalu menyempatkan diri untuk menemuinya seminggu sekali di asramanya. Kebetulan dari pihak pondok sendiri mendukung hal itu. Pihak pondok memberi kesempatan orang tua untuk menemui anaknya setiap hari Sabtu atau Minggu. 

           Beberapa waktu lalu saat menjenguknya, kuperhatikan bibirnya kering banget. Aku jadi kuatir. Sebagai ibu, aku langsung meluncurkan serentetan pertanyaan sehubungan dengan bibir keringnya itu. Udah kering, pakai dikelupas-kelupas lagi sama dia. Iih…tangannya itu bikin miris dan gemesss

           “Sudah tho Kak…, jangan dikelupas aja…” kataku.
           “Iyo..iyo…, nggak …” sahutnya, lalu menghentikan tangannya.
           Tapi, beberapa menit kemudian ia mengulaginya lagi, mengelupas kulit bibirnya. Duhh…


Entri yang Diunggulkan

[Catatan Ramadhan ke Dua] Inilah Kisah Dibalik Terbitnya Novel Terbaruku: "Serpihan Asa"

        Alhamdulillah… menulis lagi di blog. Alhamdulillah… kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang novel terbaruku yang terbit sebaga...