Kamis, 04 Juli 2019

Lelaki di Persimpangan









              
             Pagimu...
             yang jauh dari sepi
             menanti yang bisa dinanti
             menunggu yang bisa ditungg

             Soremu...
             yang bertabur keramahan
             serta sedapnya senyuman
             dari mereka yang melintas di ruas jalanmu
             di persimpangan....

             Harimu...
             keringatmu...
             lelahmu... 
             Adalah harta berharga, bernama bahagia...
           

           Bahagia, sesuatu diburu oleh semua manusia di dunia. Tujuan hidup setiap manusia dengan melalui segala aktivitas akan bermuara pada keinginan untuk merasakan kebahagiaan. Banyak cara dilakukan, baik dengan cara-cara sederhana untuk melayani diri sendiri hingga melibatkan hajat hidup banyak manusia lain, juga mungkin melalui pencapaian prestasi yang mendulang penghargaan.
     Manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhannya, melepaskan diri dari menjadi beban orang lain, memiliki kebebasan lebih untuk memutuskan jalan hidup, serta terbebas dari monopoli pihak lain. Banyak hal yang bisa didapat dengan memiliki pekerjaan, dan itu melahirkan rasa bahagia.
      Manusia melakukan aktivitas fisik seperti olahraga, bercengkerama, bergurau, dan tertawa, juga bisa melahirkan rasa bahagia. Menurut para ahli, dengan melakukan hal-hal itu maka tubuh melepaskan hormon endorphine yang mampu mengurangi rasa sakit dan membuat bahagia.
         Kita juga membutuhkan sentuhan-sentuhan kehangatan yang bisa melahirkan rasa bahagia. Seorang istri butuh pelukan suami, seorang anak butuh dekapan orang tua, antar teman pun butuh keakraban dan sentuhan persahabatan, terutama saat teman kita butuh dikuatkan. Hal sederhana yang mempu mengobati rasa sakit dan sedih, dan tentu saja menaikkan rasa bahagia kita.
         Pagi ini, tiba-tiba saya ingin membahas tentang seseorang yang saya yakini bahwa dia mendulang emas kebahagiaan di setiap paginya. Lelaki di persimpangan. Judul ini saya pakai memang dengan tujuan membuat penasaran pembaca, di antara judul lain yang tadinya ingin saya pakai, Lelaki di Pertigaan. Siapakah dia, lelaki di persimpangan itu? Adakah hubungannya dengan rasa bahagia yang saya bahas? Jawabannya tentu saja iya, justru saya ingin menulis lagi karena termotivasi oleh lelaki di persimpangan itu.
            Setiap pagi saat jam-jam banyak orang berangkat kerja, atau sore saat jam-jam pulang kerja, ia berdiri dengan konsentrasi penuh menunggu saat ia harus beraksi. Ada yang menyebutnya Pak Ogah, tapi saya lebih suka menyebutnya tukang sebrang. Atau kalian ingin menyebutnya dengan istilah apa, tak masalah. Intinya… lelaki tukang sebrang itu adalah orang yang sangat berjasa dalam hidup saya, hampir setiap hari.
            Tanpamu, aku apalah….begitu istilah jaman now-nya. Iya, kalau di tempat lain, Pak Ogah atau polisi cepek banyak yang ditertibkan karena dianggap mengganggu, justru bagi saya, tukang sebrang ini sangat penting. Karena memang jarang ada petugas resmi yang siap membantu saya dan pengendara lain menyeberang di pertigaan itu. Makanya, saya tidak terlalu suka menyebutnya Pak Ogah atau polisi cepek, karena dia berbeda.
           Lelaki di persimpangan jalan yang saya lalui itu tak pernah menengadahkan tangan. Hentakan tangannya di pundak ketika saya galau saat akan menyeberang, justru menolong saya merasakan aman. Mana sempat ia minta imbalan, mana sempat pula saya merogoh dompet dalam tas? Kecuali saat saya ingat bahwa saya ingin membalas jasanya dengan memberikan sedikit uang, lalu saya siapkan di saku sebelum berangkat kerja. Ketulusannya saya rasakan, lewat aksinya yang sungguh-sungguh membantu menyeberangkan. Ia lebih sering menerima imbalan dari kesadaran para pengendara mobil daripada motor,  karena mereka sedikit lebih punya keleluasaan untuk mengambil uang sambil salah satu tangan memegang setir. Sekali lagi, ia tak pernah meminta...,

         
             Bagaimana lelaki di persimpangan itu tak meraup bahagia setiap harinya, jika yang ia lakukan adalah memberikan sesuatu yang berguna bagi orang lain. Menjadi bermanfaat untuk orang lain, meski dengan hal yang mudah dan sederhana, membuat hati berbinar dan ceria. Iya kan? Saya pikir semua orang merasakan hal yang sama, saat merasa diri telah melakukan hal yang bermanfaat untuk orang lain, menolong orang lain, membahagiakan orang lain. Itulah yang saya pikir dirasakan oleh poltas tak resmi itu.
            Meski tidak menafikan bahwa ia mendapatkan timbal balik berupa uang terimakasih atau angpao dari pengendara yang peduli, tapi saya yakin, kebahagiaan yang dirasakan jauh lebih besar daripada materi yang di dapat. Jika kita hitung kebahagiaan dengan mengalikan berapa kali ia menyebrangkan pengendara sepeda motor atau mobil, maka kebahagiaan yang didapat tiap harinya pasti lebih-lebih. Sudah sangat cukup untuk menghibur diri dari beban hidup, mungkin beban hutang, atau permasalahan rumah tangga.
          Saya tidak tahu tepatnya berapa yang ia dapat dari jasa mengatur lalu lintas tersebut. Saya yakin ketulusannya lebih besar daripada pengharapan akan penghasilan. Mungkin kenikmatan saat melakukan hal itu adalah faktor utama mengapa ia melakukan pekerjaan itu, lagi, dan lagi, dari pada alasan bahwa ia tak ada pilihan pekerjaan lain. Bisa dikatakan, bahwa kenikmatan menyebrangkan itulah justru yang membuat ketulusannya makin hari makin terasah.  Iya, menyebrangkan, artinya ia melakukan sesuatu untuk sesama. Dan jika ditinjau dari teori psikologi, setelah memberikan bantuan kepada orang lain, tubuh melepaskan hormon serotonin yang membuat perasaan terasa bahagia.

          
            Lelaki di persimpangan itu menginspirasi saya. Tak sulit untuk menjadi pribadi yang bahagia, di antara berbagai masalah dan beban pikiran dalam liku-liku kehidupan. Mungkin ini juga sejalan dengan falsafah hidup, ketika kita memikirkan kebaikan orang lain, maka Allah akan memberikan kebahagiaan untuk kita.
            Ada tiga lelaki di persimpangan jalan itu, yang bergantian menanti saya, dan pengendara lainnya. Yang semuanya tak pernah menengadahkan tangannya. Kesadaran pengendara sendirilah yang mengisi kantong baju mereka.
          Tulisan ini dibuat bukan untuk menginspirasi orang lain, justru untuk mengabadikan sebuah pelajaran yang saya dapat untuk diri saya sendiri, yang suatu saat akan saya baca-baca lagi. Juga mengabadikan rasa terimakasih saya pada lelaki di persimpangan itu, yang ada di dekat saya, juga mungkin di dekat anda, dekat mereka…
         Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan, kecukupan rejeki, kemudahan mengatasi permasalahan, dan kedamaian hidup seterusnya, untuk lelaki di persimpangan itu, dan kawan-kawannya....

Kamis, 28 Februari 2019

Desa ODF, Harapan untuk Menuju Indonesia Lebih Sehat


Apa yang terpikir oleh teman-teman jika mendengar kata ‘BAB sembarangan’?  Iiihh… jijik pastinya kan? Iya…, buang air besar bukan di closet/wc! Dimana dong? Ya sembarangan gitu, bisa di sungai, di kebun, di sawah, di… di… Atau jangan-jangan di antara teman-teman masih ada yang melakukan itu? Idihhh jangan sampai deh ya! Atau mungkin anggota keluarganya atau tetangga masih ada yang pup sembarangan gitu? Hadeehhh…ampyun deh, tolong sadarkan mereka yah!
Contoh sarana BAB sembarangan

Tapi, ngomong-ngomong, tahu nggak sih kalau di Indonesia ini ternyata masih banyak lho yang melakukan BAB sembarangan. Sampai-sampai pemerintah membuat target Indonesia ODF tahun 2019. ODF singkatan dari Open Defecation Free yang artinya Bebas dari buang air besar sembarangan. Jadi, Indonesia ODF tahun 2019 artinya bahwa di tahun 2019 perilaku buang air besar sembarangan di seluruh wilayah Indonesia harus sudah beres. Mau lebih jelas lagi? Jadi, perilaku buang air besar sembarangan (disingkat BABS) di seluruh wilayah Indonesia harus sudah tidak ada lagi, paling lambat di tahun 2019 ini. Gitu, maksudnya.

Emang segitu parah ya BAB sembarangan di Indonesia? Hmm…Padahal tahu sendiri kan, kalau faeces manusia itu mengandung kumaaaan? Ihh! Selain menjijikkan, bisa bikin penyakit.  Bayangkan jika lalat-lalat pada hinggap di kotoran yang dibuang di alam terbuka, kemudian lalat-lalat itu menyebar dan hinggap lagi ke beraneka macam benda yang kemudian tersentuh oleh tangan manusia, yang kemudian bisa jadi mereka lupa cuci tangan pakai sabun lalu dibuat makan atau tersentuh lagi ke benda-benda yang dipakai sehari-hari. Apalagi jika lalat-lalat itu langsung menclok di makanan. Perilaku BAB sembarangan inilah biang penyakit-penyakit pencernaan yang menular di masyarakat. Dan… tak hanya itu, sebuah riset mengatakan bahwa E. Coli bisa menyebabkan terjadinya kerusakan dinding usus, yang resikonya adalah menurunnya fungsi dinding usus untuk menyerap sari makanan. Sehingga meski anak diberi makan banyak, tubuh tidak bisa terpenuhi kebutuhan gizinya karena dinding usus tak mampu menyerap sari makanan dengan baik. Nha… berabe kan, kasihan anak-anak kalau sudah mengalami hal itu. Tentu perlu waktu, dana, dan cara yang tak sederhana untuk membuat keadaan tubuh anak menjadi sehat kembali. Dan E.Coli ini adalah bakteri yang terkandung dalam kotoran manusia. Maka menjadi sangat penting mengusahakan agar lingkungan sekitar manusia bebas dari perilaku BAB sembarangan.

Lalu, apa yang dilakukan pemerintah buat mewujudkan Indonesia ODF tahun 2019?

Teman-teman pernah baca atau dengar tentang STBM? STBM singkatan dari Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. Nha, stop buang air besar sembarangan adalah salah satu pendekatan yang diluncurkan pemerintah untuk menjadikan Indonesia memiliki lingkungan hidup yang sehat. Stop BAB sembarangan ini adalah pilar pertama dari 5 pilar STBM.  Dengan pendekatan STBM  ini, pemerintah mengharapkan bahwa lingkungan  sekitar tempat tinggal masyarakat menjadi sehat atas usaha dan kesadaran masyarakat itu sendiri. Selaian stop BAB sembarangan, 4 pilar lainnya adalah cuci tangan pakai sabun (CTPS), pengamanan makanan dan minuman rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga, serta pembuangan air limbah rumah tangga yang tepat.

Untuk meraih keadaan ideal STBM, strategi yang dipakai adalah dengan cara pemicuan, atau biasa disebut CLTS.  CLTS kepanjangannya Community Led Total Sanitation, yang artinya kesehatan sanitasi lingkungan total yang dipimpin oleh masyarakat sendiri, yaitu strategi untuk mencapai keadaan sanitasi ideal dengan menumbuhkan kesadaran masyrakat itu sendiri, bukan karena adanya bantuan atau tekanan. CLTS yang biasa disebut dengan pemicuan, adalah tahapan yang menarik untuk disimak/dipelajari. Hmm…


Kegiatan pemicuan/clts bersama warga
Dalam hal menuju masyarakat bebas dari BABS, pemicuan/CLTS diawali dengan mengumpulkan warga yang masih berperilaku BABS, di suatu tempat  yang tidak jauh dari tempat mereka melakukan BAB sembarangan tersebut. Di sini, mereka diajak berkomunikasi dua arah, diberi contoh kejadian/peragaan yang memicu rasa jijik  mereka akan kotoran mereka sendiri yang dibuang sembarangan, dipancing untuk berpendapat tentang perilaku mereka sendiri, lalu diberi tantangan apakah mereka mau mengubah perilaku mereka dengan berniat membuat jamban sehat atau setidaknya mereka bisa memakai wc umum atau numpang di rumah tetangga/keluarga untuk sementara. Selanjutnya mereka diajak berkomitmen untuk benar-benar mengubah perilaku BAB sembarangan tersebut.

Tentu saja, setelah tahap pemicuan dilakukan, harus ada pendampingan, monitor, dan evaluasi dari fasilitator kesehatan setempat dalam hal ini adalah pihak Puskesmas, juga dari pemerintah desa/kelurahan setempat. Tak hanya sampai di tingkat desa, untuk monitoring dan evaluasi juga dilakukan di tingkat kecamatan.

Kemudian, untuk menilai apakah sebuah desa/kelurahan sudah layak disebut sebagai desa/kelurahan ODF, maka harus dilakukan kegiatan verifikasi ODF. Tahap verifikasi ODF ini juga menarik dan memberi kesan-kesan tersendiri terutama bagi anggota tim verifikasi yang berasal dari desa lain, puskesmas lain, serta dari kecamatan setempat. Tim verifikasi bertugas mengunjungi rumah-rumah di desa/kelurahan yang bersangkutan, dipilih secara acak. Dalam kunjungan itu tim verifikasi akan menilai apakah rumah tersebut sudah menggunakan jamaban sehat atau masih BAB sembarangan. Dari penilaian tim verifikasi itulah nanti akan diputuskan pakah desa tersebut layak disebut sebagai desa ODF atau belum.

Acara ceremonial verifikasi ODF

Verifikasi ODF di lapangan dengan kunjungan rumah

Verifikasi ODF di lapangan dengan kunjungan rumah
Peta sanitasi sebagai salah satu "perangkat' dalam kegiatan verifikasi ODF

Verifikasi ODF di lapangan dengan kunjungan rumah



Setelah tahap verififikasi selesai dengan hasil bahwa desa sudah layak disebut sebagai desa ODF, maka desa tersebut akan dideklarasikan sebagai desa ODF. Biasanya penganugerahan desa ODF dilakukan bersama-sama dengan desa lain di satu kabupatn"
.
Saya, sebagai salah satu tim sanitasi dari Puskesmas Kalinyamatan, merasa sangat bersyukur karena ikut menyimak proses beberapa desa menuju desa ODF. Dari sosialisai, pemicuan, pendataan, serta verifikasi ODF di beberapa desa. Sungguh pengalaman yang tak bisa dinilai hanya dengan uang. Tentu bersama sanitarian senior Puskesmas Kalinyamatan, yaitu Bapak Basis Priyonggo SKM, terutama saat tahap pemicuan/CLTS yang dilakukan beliau dengan totalitas seorang pengabdi masyarakat sesuai dengan ilmunya. Beberapa tahap pemicuan dan verifikasi bahkan sempat saya abadikan dalam bentuk video.

Nha, ternyata tidak hanya sampai di situ. Setelah desa-desa diusahakan menjadi desa ODF, maka untuk tingkat kecamatan, perlu juga dideklarasikan sebagai kecamatan ODF, kemudian untuk tingkat berikutnya menuju kabupaten ODF. Untuk itu, maka perlu dilakukan lagi verifikasi kecamatan ODF, juga verifikasi kabupaten ODF yang akan membuktikan bahwa suatu wilayah sudah layak disebut sebagai kecamatan ODF, dan kabupaten ODF. Dan… pada saatnya, jika semua wilayah di Indonesia sudah lolos verifikasi ODF, Negara Indonesia pun akan menjadi negara ODF sebagaimana yang sudah disebutkan di atas, bahwa Indonesia ditargetkan menjadi Negara ODF oleh Pemerintah di tahun 2019.

Untuk Kabupaten Jepara, terhitung pada akhir tahun 2018, telah mendeklarasikan 120 desa/kelurahan sebagai desa/kelurahan ODF, dan masih ada pe-er sejumlah 75 desa/kelurahan lagi agar Jepara bisa menjadi kabupaten ODF. Sudah lumayan ya, kalau melihat perbandingan antara yang sudah ODF dengan yang belum. Semoga sih… di tahun 2019 ini, 75 desa yang belum ODF bisa mengejar ketertinggalannya.

Untuk Kecamatan Kalinyamatan sendiri, tahun 2018 telah tercapai target 12 desa lolos verifikasi ODF, bahkan 3 di antaranya sudah lolos di tahun sebelumnya. Syukur Alhamdulillah dengan hal itu, meski beberapa desa memang lolos dengan catatan. Harapannya, semoga saat dilaksanakan verifikasi ODF tingkat kecamatan dan kabupaten, hasilnya tidak akan membuat kecewa, sudah benar-benar tak ditemukan lagi perilaku BABS di wilayah Kabupaten Jepara..
Hmm…kalau desa/kelurahanmu gimana, sudah ODF kah?


















Entri yang Diunggulkan

[Catatan Ramadhan ke Dua] Inilah Kisah Dibalik Terbitnya Novel Terbaruku: "Serpihan Asa"

        Alhamdulillah… menulis lagi di blog. Alhamdulillah… kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang novel terbaruku yang terbit sebaga...